Kiai Shiddiq Samakan Film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa dengan Sampah

 Kiai Shiddiq Samakan Film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa dengan Sampah

Mediaumat.info – KH Shiddiq al-Jawi menyamakan film berjudul Tuhan, Izinkan Aku Berdosa (yang diadaptasi dari buku berjudul Tuhan, Izinkan Aku Jadi Pelacur) sebagai sampah.

“Hasilnya, tentu juga sampah, tak mungkin jadi emas atau berlian,” ujar Pakar Fikih Kontemporer sekaligus Founder Institut Muamalah Indonesia tersebut dalam keterangan tertulis yang diterima media-umat.info, Kamis (2/5/2024).

Artinya, meski diadopsi menjadi film dengan akhir cerita yang menurut Sutradara Hanung, berbeda, buku maupun film ini tidak menawarkan apa-apa kepada masyarakat kecuali kegelapan dan kenihilan. Lebih jauh, sebagai bentuk kebencian terhadap perjuangan melanjutkan kehidupan Islam.

“Kosong, hampa, dan jelas nyinyir dan benci kepada Islam, umatnya, dan perjuangan suci untuk menegakkan Islam secara kaffah,” tegasnya.

Tengoklah ketika tokoh utama Nidah Kirani yang digambarkan mengalami kekosongan jiwa dan pikiran setelah petualangannya yang hancur-hancuran (hal. 243), tidak ada kemudian tawaran, meski sedikit sinar yang bisa membimbingnya.

Lebih dari itu, cerita yang disuguhkan sebenarnya bukan lagi pemberontakan terhadap agama, tetapi malah membentuk sebuah agama alternatif yang sengaja dibuat oleh para eksistensialis, untuk menjadi pembimbing kehidupan dalam situasi modern yang kacau (chaos).

Seperti halnya ungkapan seputar ‘kekosongan’ dan ‘kegelapan’ di dunia filsafat yang merupakan ciri khas dari sastra beraliran eksistensialisme.

Adalah di dalam artikel McElroy (1972:36), yang telah menggambarkan siapa itu kaum eksistensialis. Dikatakan, “a group of thinkers who are attempting to develop an alternative religious discipline as a guide for living in the chaos of modern world.

Tak ayal, tawaran Muhidin M. Dahlan, penulis buku tersebut, tak lain sebenarnya adalah suatu agama alternatif.

“Dia bikin agama baru. Tuhannya adalah hawa nafsu manusia. Mungkin Muhidin M. Dahlan adalah nabinya, yang sedang giat menggembar-gemborkan ajaran yang kafir kepada umat manusia, agar umat manusia bertaklid buta dan mengekor kepadanya menuju kegelapan yang abadi. Mengerikan!” tandas Kiai Shiddiq.

Stigmatisasi Islam Kaffah

Untuk ditambahkan, buku maupun film ini sarat dengan stigma terhadap gerakan Islam. Dengan kata lain, secara tidak langsung mereka ingin membentuk citra negatif bagi gerakan Islam yang ingin menegakkan syariat Islam secara kaffah.

Menurut Kiai yang mengaku pernah membedah buku tersebut langsung dengan Muhidin M. Dahlan bersama pembicara lainnya Dr. Abdul Munir Mulkan, dosen IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pada Desember 2003, di Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta tersebut, upaya ini tampak dari cara penulis buku yang mengekspos perilaku oknum mantan anggota gerakan yang justru kontradiktif dengan syariat Islam itu sendiri, seperti mengonsumsi narkoba dan seks bebas.

Tak hanya itu, mereka pun menonjolkan perilaku bejat oknum anggota DPRD yang konon dari suatu fraksi yang memperjuangkan syariat Islam.

Semua ini, kata Kiai Shiddiq lebih lanjut, bertujuan agar masyarakat tidak mempercayai lagi perjuangan penegakan syariat Islam, karena toh perilaku para aktivisnya sangat munafik, bejat, dan amat jauh dari syariat Islam.

Terlebih, secara buku ini menyisipkan pandangan kufur, bukan ide Islam yang menjadi substansi atau roh dari sebuah karya sastra. Semisal, pandangan bahwa agama adalah candu masyarakat, yang menipu manusia dari hakikat kehidupan.

Ditambah, terdapat bahasa-bahasa vulgar di dalam buku ini. “Jika kita hendak mencari karya sastra dengan bahasa yang vulgar, kasar, buku Muhidin M. Dahlan dapat diambil sebagai sampelnya,” kata Kiai Shiddiq, seraya menunjukkan adanya beberapa kata atau sebaris kalimat yang disensor dengan tinta hitam pada hal. 102-103 sehingga tidak bisa dibaca.

Pula terdapat diksi yang mengesankan bahwa penulis tidak punya tata krama dan tak berpendidikan.

“Hubunganku dengannya tak kurang dan tak lebih semata hanya seksnya saja untuk pelampiasan kekosonganku. Lain tidak. Cinta? Taik,” kutip Kiai Shiddiq seperti di halaman 194.

Untuk itu dalam jangka panjang, kekasaran jiwa, kevulgaran yang telanjang, sikap tak mengenal kehalusan bahasa dan kesantunan kata tersebut akan berpotensi semakin merusak mental bangsa yang menurutnya sudah rusak.

“Muhidin M. Dahlan akan turut bertanggung jawab untuk hal ini,” pungkasnya. [] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui channel Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *