Mediaumat.info – Di hadapan sekira 30 ribu massa, Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menyampaikan, akar masalah penjajahan di Palestina yang tak kunjung tuntas adalah ketiadaan pelindung umat yakni khilafah Islam yang secara empiris sukses menaungi.
“Kenapa mereka bisa melakukan itu? Karena pelindung wilayah Palestina dan juga wilayah dunia Islam telah lenyap,” lontarnya dalam Masirah Kubra: Isra’ Mi’raj, Umat Bersatu Bebaskan Al-Aqsha dan Palestina, Ahad (26/1/2025) di depan Kedubes Amerika Serikat (AS) Jakarta Pusat.
Memang, jelas UIY, runtuh atau lenyapnya Kekhilafahan Utsmani ketika itu sebagai bagian dari cita-cita kaum Yahudi yang ingin memiliki negara sendiri di tanah Palestina.
Padahal sebelumnya mereka memiliki dua wilayah sebagai opsi, yakni Uganda dan Argentina. Namun karena terdapat gerakan Zionis yang menginginkan Gunung Zion sebagai pusat peribadatan orang-orang Yahudi seluruh dunia di Palestina, maka digeserlah opsi tersebut ke sana.
“Dia tahu persis bahwa cita-cita itu hanya akan mungkin terwujud, cita-cita berdirinya negara Yahudi itu akan terwujud jika penghalang utamanya itu, Kekhilafahan Utsmani diruntuhkan,” ulasnya, mengawali orasi.
Adalah Theodor Herzl, aktivis Yahudi yang mencetuskan gerakan politik Zionisme, sebagaimana dilansir dari The Jewish State (Der Judenstaat), sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 1896 di Leipzig dan Wina, misalnya, menguraikan visi tentang tanah air bagi orang Yahudi.
Bermula dari peristiwa antisemit di banyak negara Eropa, yang berujung pada kesimpulan bahwa sentimen anti-Yahudi akan membuat asimilasi Yahudi menjadi mustahil, maka satu-satunya solusi adalah pembentukan negara Yahudi.
Ide itu pun menarik perhatian internasional dan dengan cepat menjadikan Herzl sebagai tokoh utama di dunia Yahudi.
Namun demikian, tahu bahwa Palestina bukanlah wilayah tak bertuan, ia pun datang merunduk dan memohon agar Khalifah Abdul Hamid II bersedia menyerahkan wilayah Palestina.
Seketika Sang Sultan pun menolak meski disuap dengan 150 juta poundsterling emas. Sebab wilayah Palestina adalah tanah kharajiah yang siapa pun tak boleh menyerahkan apalagi kepada musuh.
Upaya kaum Yahudi berlanjut hingga dengan dukungan Inggris, berusaha melenyapkan penghalang utama itu melalui berbagai cara. Mulai dari menyeret ke dalam Perang Dunia I (1914) hingga memunculkan perjanjian rahasia Sikes-Picot (1916) yang mengerat dan membagi wilayah Kekhilafahan Utsmani untuk kemudian dikuasai Prancis dan sebagian lagi oleh Inggris.
Puncaknya adalah deklarasi dukungan Inggris untuk berdirinya negara Yahudi yang dimuat dalam sebuah surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri Luar Negeri Inggris Arthur Balfour kepada Lord Rothschild, seorang pemimpin komunitas Yahudi Inggris, untuk disampaikan kepada Federasi Zionis Britania Raya dan Irlandia.
“Akhirnya apa yang menjadi keinginan mereka terwujud pada tahun 1924 dengan berbagai rekayasa termasuk dengan menggunakan pion utama Kemal Pasha, Khilafah Utsmani, payung dunia Islam yang selama ini melindungi wilayah Palestina runtuh,” ulasnya.
Untuk ditambahkan, semenjak itu orang-orang Yahudi dari berbagai wilayah di seluruh dunia mulai berdatangan khususnya yang dari Eropa Timur, dan puncaknya pada tahun 1948 negara Yahudi Israel berdiri.
Jihad dan Khilafah
“Maka solusi tuntas sebagaimana tertulis di sebelah sana itu (menunjuk tulisan di banner besar yang diangkat para peserta aksi), solusi tuntas Palestina adalah jihad dan khilafah!” serunya.
Untuk memastikan seluruh peserta aksi memahami hal yang sama, UIY pun melontarkan pertanyaan hingga tiga kali berturut-turut perihal solusi itu ke seluruh peserta aksi yang lantas dijawab serentak, “Jihad dan khilafah!”
“Apa solusi tuntas masalah Palestina?” lontarnya, seraya dijawab oleh seluruh peserta aksi, “Jihad dan khilafah!”
Dengan kata lain, selama tetap membagi wilayah Palestina dengan musuh, umat Islam wajib memantapkan niat dan langkah untuk menolak apa pun solusi yang disodorkan. “Menolak seluruh solusi, jika solusi itu tetap mempertahankan penjajah di wilayah yang diberkati itu,” tegasnya kembali.
Termasuk solusi dua negara (two state solution), yang pada hakikatnya tetap menerima keberadaan entitas penjajah.
“Maukah saudara-saudara kalau ada pencuri masuk ke rumah kita, lalu berbagi tempat dengan pencuri atau maling itu?” lontarnya lagi, menganalogikan secara sederhana ketidakmungkinan dimaksud.
Karenanya pula, selain memantapkan langkah amat penting umat harus membulatkan tekad berjuang menegakkan kembali khilafah Islam. Sebab, hanya dengan khilafah berikut komando sang Khalifah, yang mampu menghimpun hampir dua miliar jiwa umat Islam di seluruh dunia.
Maknanya, dengan persatuan tersebut, bisa dipastikan umat bakal memiliki kekuatan menghadapi seluruh makar yang selama ini dilakukan oleh musuh Islam di berbagai wilayah semisal Uighur, Rohingya, termasuk Gaza di Palestina.
Dengan persatuan itu, kata UIY menjelaskan lebih lanjut, dua miliar umat Islam bakal menjadi entitas yang paling besar dan kuat menyongsong seruan-seruan Allah SWT dan meyakini tidak ada keburukan di dalam jihad.
“Menang itu kebaikan, mati syahid itu juga kebaikan,” demikian UIY mengungkapkannya.
Terakhir, ia berharap keberkahan selalu menyertai niat tulus umat yang tak berhenti menyuarakan persoalan Palestina dan senantiasa membulatkan tekad berjuang demi tegaknya kembali kejayaan Islam dan kemuliaan kaum Muslim (izzul Islam wal muslimin).
“Lalu ditanya aynal muslimun? Nahnu muslimun. Inilah kami yang terus tidak melupakan wilayah Palestina,” pungkasnya, seakan menjawab jeritan histeris warga Palestina.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat