Tujuh Alasan Entitas Penjajah Lanjutkan Genosida di Gaza

Mediaumat.info – Direktur Siyasah Institute Iwan Januar mengungkap tujuh alasan entitas penjajah Zionis Yahudi mengkhianati gencatan senjata di Doha (15/1) dan melanjutkan genosida di Gaza.

“Ada beberapa alasan mengapa entitas Yahudi tetap kebal muka melanjutkan genosida di Gaza,” tuturnya kepada media-umat.info, Jumat (17/1/2025).

Pertama, mereka memanfaatkan keuntungan langkah di medan perang. Hamas dan kelompok milisi pejuang lainnya, termasuk Hizbullah di Libanon, dalam keadaan terpojok akibat serangan tak berimbang dari pihak Zionis.

“Harus diakui secara persenjataan dan taktik perang para pejuang Palestina dalam posisi tidak menguntungkan. Militer Zionis gunakan keunggulan artileri dan serangan udara yang makin membumihanguskan Gaza,” ujarnya.

Kedua, pihak Zionis secara serius melakukan operasi genosida, atau pembersihan etnis di Gaza. “Siapa pun, selain bangsa Yahudi, apakah itu anak-anak, perempuan, jurnalis, tenaga medis, menjadi target serangan. Itulah genosida,” ungkapnya.

Ketiga, pihak entitas Yahudi juga berambisi untuk membangun mega proyek Terusan Ben Gurion. Proyek ambisius ini dicanangkan menjadi saingan Terusan Suez yang berada di bawah kendali Mesir.

“Terusan ini berbentuk kanal besar dan dalam yang dimulai dari Eliat, kota Israel yang berbatasan dengan Yordania di Laut Merah, lalu melintasai Gurun Negev hingga ke Utara, dan berbelok ke arah Laut Mediterania melintasi Gaza. Selain menjadi tandingan Terusan Suez, Terusan Ben Gurion dibangun guna mengembangkan kota-kota kecil, hotel, restoran, dan klub malam di sekitar jalur yang dilintasinya,” terangnya.

Bila rencana ini terwujud, kata Iwan, maka pemerintah Zionis tidak lagi bergantung melewati Terusan Suez. Proyek akan menghubungkan Laut Mediterania ke Laut Merah sehingga dapat menghasilkan rute yang lebih cepat untuk pengiriman laut antara Asia dan Eropa.

Keempat, Zionis ingin segera menuntaskan operasi militer mereka di Gaza mengingat kondisi ini sudah menguras sumber daya mereka dan menciptakan gejolak politik dan sosial di dalam negeri. Enam bulan sejak perang Israel di Gaza dimulai proyek perekonomian Israel sebagian besar negatif. Jaringan media Al Jazeera melaporkan ekonomi Israel terdampak kerugian langsung senilai 56 miliar dolar AS.

“Zionis juga harus merogoh dana besar untuk operasi militer di Gaza dan membayar kompensasi untuk warga dan tentara yang terdampak konflik,” ujar Iwan.

Berdasarkan Biro Statistik Pusat, sebut Iwan, perekonomian Israel menyusut 19,4 persen selama tiga bulan terakhir 2023 dibandingkan periode yang sama 2022. Penurunan tertajam sejak pandemi Covid-19. Sementara investasi bisnis juga anjlok 67 persen. Diperkirakan ada 200 ribu warga mereka yang tinggal di utara dan selatan negara itu juga masih mengungsi,” bebernya.

Kelima, selain terdesak faktor ekonomi, entitas penjajah Zionis Yahudi juga tidak ingin negerinya terus alami gejolak sosial dan politik di dalam negeri akibat perang. Jajak pendapat yang dilakukan oleh Channel 13 Television Israel menunjukkan bahwa 76% warga Israel berpendapat bahwa Netanyahu, yang kini menjabat perdana menteri untuk keenam kalinya, harus mengundurkan diri dan 64 persen mengatakan negara tersebut harus mengadakan pemilu segera setelah perang.

“Krisis moril juga dialami militer Zionis selama perang. Sekitar 200 tentara Zionis menolak berperang. Moril mereka jatuh menyaksikan kekejaman pasukan mereka sendiri di medan perang, selain juga melihat rekan-rekan mereka yang tewas dan terluka parah. Jumlah tentara yang menolak ini diduga hanya puncak gunung es. Banyak prajurit yang menolak bertempur namun takut menyampaikan pendapat,” ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, tindakan amoral juga terjadi di internal militer Zionis. Situs berita Zionis Haaretz.com menurunkan tulisan bahwa di tahun 2021 sepertiga prajurit perempuan Zionis mengalami pelecehan seksual oleh rekan pria mereka. 44 persen laporan tidak ditangani dengan semestinya dan 26 persen komplain mereka tidak diperhatikan sama sekali.

“Itulah sebabnya Zionis ingin secepatnya menyelesaikan operasi genosida di kawasan Gaza. Tujuannya agar krisis dalam negeri bisa segera diselesaikan pula,” tandasnya.

Keenam, para penguasa Zionis melihat dukungan presiden AS yang baru Donald Trump begitu kuat. Dalam salah satu pidatonya Trump mengancam Hamas untuk membebaskan tawanan mereka sebelum ia menduduki jabatan Presiden di AS. Trump menyatakan, “Neraka akan pecah di Timur Tengah bila itu tidak terjadi.”

Ketujuh, Zionis paham betul bahwa tindakan genosida di Gaza tidak akan membuat para penguasa Arab bangkit melawan mereka. Entitas Yahudi sudah lakukan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon, serangan ke Suriah dan Iran, juga membunuh dua pimpinan Hamas yakni Ismail Haniyeh dan Yahya Sinwar. Para pemimpin Arab dan dunia Islam tidak balas ‘menggigit’ kecuali serangan tidak berarti seperti yang dilancarkan Iran.

“Sikap pengecut dan cuek para pemimpin dunia Islam menjadi restu bagi Zionis untuk terus melancarkan genosida mereka. Apalagi sebagian para penguasa negeri Islam masih menjalin relasi politik dan ekonomi,” tegasnya.

Padahal, menurut Iwan, serangan Zionis yang makin meluas ke Lebanon dan Suriah adalah sinyal kalau mereka amat mungkin memperluas area serangan. Namun para penguasa Arab dan dunia Islam tidak sadar juga. Mereka masih merasa nyaman berada dalam perlindungan Amerika Serikat dan Inggris. Padahal bisa saja sewaktu-waktu kekuasaan mereka dijatuhkan seperti yang dialami Saddam Husein, Qadhafi, dan Bashar Assad.

“Kita memahami derita warga Gaza sehingga terjadi gencatan senjata. Namun tabiat kaum Yahudi yang suka berkhianat betul-betul menyebalkan. Bagi mereka, jangankan manusia, Tuhan dan para nabi saja mereka khianati. Memang sudah betul, hanya satu sikap yang harusnya dilakukan umat Muslim; kerahkan pasukan militer untuk berjihad mengusir mereka,” pungkasnya.[] Achmad Mu’it

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: