Bahas Kepemimpinan, UIY Paparkan Hal Penting Ini

Mediaumat.info – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menyampaikan hal penting yang kerap luput dari perhatian umat, yaitu dimulai dari mana sebuah kepemimpinan harus ditumbuhkan.

“Yaitu adalah bahwa dari mana sebenarnya kepemimpinan itu harus ditumbuhkan,” ujarnya dalam Tausiah Hari Ke-28: Menjadi Pemimpin Diri Sendiri,  Jumat (28/3/2025) di kanal YouTube One Ummah TV.

Untuk diketahui sebelumnya, dari dahulu hingga sekarang bahkan yang akan datang, kepemimpinan akan menentukan keberhasilan suatu organisasi dalam meraih tujuannya, “Sesungguhnya di dalam setiap episode dinamika kehidupan masyarakat dari dulu sampai sekarang itu selalu bicara tentang kepemimpinan,” kata UIY.

Karena itu, jelas UIY, diutusnya Nabi Muhammad SAW sekaligus sebagai pemimpin umat secara tidak langsung telah mengajarkan tentang model kepemimpinan yang sempurna. Tak hanya umat Islam, model kepemimpinan beliau SAW juga terbukti dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat dengan beragam suku, bangsa, ras serta agama.

Tak salah jika kemudian Michael H. Hart, misalnya, seorang berkebangsaan Amerika, penganut Yahudi dan penulis buku The 100: A Rangking of The Most Influential Person in History dengan berani menempatkan Nabi Muhammad SAW pada urutan teratas 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah.

Michael H. Hart mengakui, Nabi Muhammad SAW bukan hanya pemimpin agama melainkan juga pemimpin dunia. Fakta menunjukkan, pengaruh kepemimpinan politik Nabi Muhammad SAW selalu berada di posisi terdepan. Ini merupakan bukti nyata dari keberhasilan dalam memimpin.

Hal ini, jelas UIY, telah tampak dari karakter kepemimpinan beliau SAW yang meliputi: shiddiq (jujur), amanah (terpercaya), fathanah (cerdas), dan tabligh (menyampaikan) dalam hal ini menyerukan kebenaran secara baik, bijaksana dan tanpa kekerasan.

Maknanya, kata UIY lebih lanjut, kendati disebut paling top dalam memimpin suatu negeri, tetapi kalau gagal memimpin dirinya sendiri, maka yang terjadi justru menggunakan kepemimpinan untuk kepentingan pribadi atau golongannya saja.

“Dia paksakan orang lain mengikuti kemauan dia, dia ambil apa yang bukan menjadi hak dia, dia kumpulkan harta, dan sebagainya-dan sebagainya” tandas UIY.

Lihatlah Pol Pot, berikut kebrutalan kepemimpinan rezim Khmer Merah, Kamboja (1975-1979), yang telah melakukan pembantaian massal terhadap 2 juta rakyatnya. Begitu juga Hitler dengan rezim Nazi (1933–1945) dan kaki tangannya secara sistematis membunuh lebih dari 6 juta orang Yahudi.

Hal serupa juga dilakukan oleh tentara Genghis Khan yang menyebabkan kematian lebih dari 40 juta orang di Eurasia. “Untuk ukuran sekarang (angka kematian) itu sangat besar, apalagi ukuran masa itu tahun 1200-an,” sebut UIY.

“Dan itulah sejarah kepemimpinan buruk yang menghiasi sejarah manusia,” cetusnya.

Karena itu, pungkas UIY, andai ibadah puasa seperti di bulan Ramadhan ini dilakukan dengan terlebih dahulu membangun kesadaran kepemimpinan serta pengendalian pada diri sendiri, maka akan berdampak sangat luar biasa bagi berbagai kepentingan, terutama kepentingan memimpin keluarga dan khususnya kehidupan bermasyarakat serta bernegara.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: