Pengamat: Entitas Penjajah Yahudi Kerap Langgar Perjanjian

Mediaumat.info – Meski gencatan senjata telah berlaku di Jalur Gaza Palestina, Pemimpin Redaksi Majalah Al-Wa’ie Farid Wadjdi mengingatkan bahwa entitas penjajah Yahudi kerap melanggar berbagai perjanjian.
“Entitas penjajah Yahudi ini kerap kali melanggar perjanjian-perjanjian termasuk gencatan senjata,” ujarnya dalam Sorotan Dunia Islam, Rabu (22/1/2025) di Radio Dakta 107.0 MHz FM Bekasi.
Diberitakan sebelumnya, pasca diberlakukan secara resmi gencatan senjata di Gaza, Palestina, pada Ahad (19/1) waktu setempat sekaligus menandai berakhirnya serangan tanpa henti yang dilakukan Zionis Yahudi sejak 15 bulan lalu, ternyata agresi brutal tetap dilakukan entitas penjajah Yahudi atas warga Palestina.
Dengan kata lain, serangkaian serangan ke Jenin, di Tepi Barat, yang dikenal sebagai kota pusat pertanian Palestina, cukup menjadi bukti kesekian kali bahwa entitas penjajah Yahudi kembali melakukan pelanggaran perjanjian.
Serangan yang berlangsung sejak Rabu (22/1) itu, selain menewaskan 10 warga Palestina, juga menghancurkan infrastruktur seperti jalan-jalan utama, dan menyebabkan 2.000 keluarga terpaksa mengungsi.
Namun demikian, Farid tak heran dengan kecenderungan sikap melanggar perjanjian yang dilakukan entitas Yahudi itu. Pasalnya, Allah SWT telah menyebut di dalam QS Al-Baqarah: 100, yang artinya:
“Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? Bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman.”
Catatan Pelanggaran
Farid mencatat ada banyak pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata yang dilakukan oleh entitas penjajah Yahudi. Pertama, pelanggaran gencatan senjata selama Perang Gaza 2014 yang berlangsung 8 Juli hingga 26 Agustus 2014 (1 bulan, 2 pekan, 4 hari).
Adalah berupa serangan udara oleh entitas penjajah Yahudi pada 3 Agustus 2014 yang telah menghancurkan sekolah PBB di Rafah, Gaza, yang menewaskan puluhan orang.
Sebagaimana kata Chris Gunness, juru bicara badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), sekolah itu menampung ribuan pengungsi yang sebelumnya dipaksa meninggalkan rumah mereka karena kekerasan di Gaza.
“Penembakan atas sekolah UNRWA di Rafah, yang menampung hampir 3.000 pengungsi. Laporan awal menyebut sejumlah kematian dan cedera,” katanya di Twitter (sekarang X).
Catatan kedua, pelanggaran gencatan senjata juga dilakukan saat Perang Gaza 2021 (Operasi Pedang al-Quds) yang berlangsung pada 6–21 Mei 2021 (2 pekan dan 1 hari).
Ketika itu, meski gencatan senjata dicapai pada tanggal 21 Mei 2021, tetapi Zionis Yahudi masih saja melancarkan serangan udara, termasuk pada beberapa infrastruktur sipil di Gaza, seperti gedung media dan fasilitas kesehatan.
“Salah satu insiden penting adalah serangan udara Zionis Yahudi yang menghancurkan Gedung Al-Jalaa pada 15 Mei 2021, yang menjadi markas beberapa kantor media internasional, termasuk Associated Press dan Al Jazeera,” ungkap Farid, memisalkan.
Pelanggaran ketiga, di tengah gencatan senjata yang telah diumumkan pasca bentrok di Gaza pada 11 hingga 13 November 2018 (2 hari), entitas penjajah Yahudi melakukan serangan udara besar-besaran terhadap Gaza yang memicu kembali eskalasi kekerasan.
Sedangkan fakta pelanggaran keempat, terjadi pada Juni 2020. Ketika itu Zionis Yahudi justru mengumumkan niat untuk melanjutkan rencana aneksasi sebagian besar wilayah Tepi Barat, padahal gencatan senjata masih berlaku.
Tak ayal, tindakan ini diprotes oleh komunitas internasional dan dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak-hak Palestina dan perjanjian internasional yang mengatur wilayah pendudukan.
Catatan kelima, pelanggaran gencatan senjata dilakukan pada 2018 di tengah peringatan yang menandai 51 tahun pendudukan Wilayah Palestina dan 11 tahun blokade Gaza.
Kala itu entitas penjajah Yahudi malah melanjutkan blokade atas Gaza, yang kembali membatasi akses bahan-bahan dasar seperti obat-obatan, bahan bakar, dan makanan, serta membatasi kebebasan bergerak bagi warga Gaza dan memengaruhi setiap aspek kehidupan warga Palestina.
Tak berhenti di situ, menjadi catatan pelanggaran gencatan senjata keenam, juga dilakukan selama periode demonstrasi besar-besaran di sepanjang perbatasan Gaza yang berlangsung pada 30 Maret 2018 hingga 27 Desember 2019 (1 tahun, 8 bulan, 3 pekan dan 6 hari).
Pada 14 Mei 2018, pasukan Zionis Yahudi menembaki para demonstran di Gaza yang memperingati Hari Nakba (Hari Kehancuran) dan memprotes pemindahan kedutaan AS ke Yerusalem, yang mengakibatkan lebih dari 60 orang tewas dan ratusan lainnya terluka.
Bersifat Sementara
Karenanya, umat harus menyadari sekaligus memahami bahwa perjanjian gencatan senjata baru-baru ini yang dimediasi oleh Qatar, Mesir dan Amerika Serikat (AS), sebenarnya bersifat sementara. Sebab, menurut Farid, selama entitas penjajah Yahudi bercokol di Palestina, ancaman kekerasan hingga genosida juga masih ada.
Untuk itu, ia berharap para penguasa di negeri Muslim segera mengirimkan para tentara terbaik mereka, di samping juga bantuan kemanusiaan yang kini dibutuhkan di Palestina.
Artinya, kemenangan hakiki bisa tercapai bila entitas penjajah Yahudi tak lagi menginjakkan kakinya di Bumi Palestina. “Kemenangan yang hakiki itu kalau entitas penjajah Yahudi sudah kita usir dari tanah Palestina,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat